BARRU, LENSAMERDEKA.COM – Senja sering menjadi penanda akhir tugas Andriansyah. Saat sebagian orang telah meninggalkan lokasi kegiatan, ia masih berdiri dengan kamera di tangan, memastikan satu sudut terakhir terekam dengan baik. Baginya, pengabdian tidak dimulai dari jabatan dan tidak pula berakhir pada sorotan. Ia mengalir dari satu agenda ke agenda lain, dari pagi yang sibuk hingga sore yang pelan.
Namanya jarang disebut dalam laporan kegiatan. Namun hampir semua dokumentasi resmi Pemerintah Kabupaten Barru pernah melewati lensanya. Jabat tangan, peresmian, wajah warga, ekspresi pejabat—semua pernah ia abadikan. Ia bekerja di belakang layar, dalam sunyi yang panjang.
Tak banyak yang tahu, Andriansyah telah mengabdi sejak 2006. Dua puluh tahun lebih ia menjalani peran sebagai tenaga honorer, bertahan dalam status yang lama tanpa kepastian. Setiap tahun berganti, ia tetap datang dengan semangat yang sama. Tidak ada keluhan berlebihan, tidak ada tuntutan keras. Hanya satu prinsip yang ia pegang: pekerjaan harus selesai dengan baik.
Di sela perjalanan panjang itu, pernah ada fase yang menguji ketegasan dan kedisiplinannya. Pada 2009 hingga 2010, ia dipercaya menjadi ajudan Wakil Bupati Barru saat itu, H. Kamrir Dg. Mallongi. Pengalaman tersebut menjadi sekolah kehidupan baginya. Dari sana, ia belajar membaca situasi, bergerak cepat, dan memahami ritme kerja pemerintahan.
Usai masa tugas tersebut, Andriansyah kembali ke Bagian Protokol Setda Barru. Kamera kembali menjadi temannya. Dari balik lensa itulah ia menyaksikan dinamika daerah berjalan: pergantian pimpinan, pembangunan, hingga denyut harapan masyarakat. Ia selalu hadir, meski namanya tak pernah berada di barisan depan.
Tiga Kali Mencoba, Dua Kali Gagal
Harapan untuk memperoleh kepastian status tak pernah benar-benar padam. Andriansyah mencoba mengikuti seleksi PPPK pada 2022. Gagal. Ia kembali mencoba pada 2023. Gagal lagi. Tahun berlalu, tugas terus berjalan, dan kamera tetap ia genggam.
Tahun 2025 menjadi percobaan ketiga. Tidak ada euforia berlebihan, tidak pula harapan yang diumbar. Ia menjalani proses seperti biasa, sembari tetap bekerja. Bagi Andriansyah, gagal atau berhasil bukan alasan untuk berhenti hadir di setiap tugas.
Hingga akhirnya, di penghujung 2025, penantian itu berakhir. Surat Keputusan PPPK–PW resmi ia terima. Sebuah kertas yang sederhana, namun sarat makna. Bukan sekadar perubahan status, melainkan pengakuan atas kesetiaan yang diuji waktu.
“Bukan soal jabatan, tetapi tentang kepastian dan penghargaan atas proses panjang,” ucapnya pelan.
Kalimat itu sederhana, namun menyimpan dua dekade cerita yang jarang terdengar. Tentang bertahan, tentang memilih tetap bekerja meski masa depan tak selalu jelas.
SK, Doa, dan Orang Tua
Momentum penyerahan SK tak hanya menghadirkan rasa lega. Ada keheningan yang tiba-tiba menyelimuti ruangan saat Bupati Barru menyampaikan pesan kepada seluruh PPPK–PW. Para penerima SK diminta menundukkan kepala, menghadirkan wajah orang tua dalam doa.
Bagi mereka yang orang tuanya telah wafat, Bupati berpesan agar mengirimkan Surat Al-Fatihah. Sebuah pengingat bahwa keberhasilan hari ini tidak berdiri sendiri.
“Keberhasilan ini juga buah dari doa dan pengorbanan orang tua,” ucapnya dengan suara yang menahan haru.
Bagi Andriansyah, pesan itu terasa sangat dekat. Dua puluh tahun pengabdian bukan hanya tentang dirinya, tetapi juga tentang doa-doa yang tak pernah putus, meski sering tak terucap.
Tetap Sama, Meski Status Berubah
Di tengah sekian banyak PPPK–PW yang diangkat Pemerintah Kabupaten Barru, kisah Andriansyah mungkin bukan yang paling lantang. Namun justru di situlah kekuatannya. Ia menjadi pengingat bahwa banyak roda pemerintahan berputar karena kerja-kerja sunyi orang-orang seperti dirinya.
Status kini telah berubah. Namun cara ia bekerja tetap sama. Datang lebih awal, pulang paling akhir, memastikan setiap momen tercatat. Kamera masih setia di tangannya. Pengabdian masih ia jalani dengan cara yang sama: bekerja dengan hati, melayani dengan tanggung jawab.
Di balik setiap SK, selalu ada cerita. Dan di balik cerita Andriansyah, ada pelajaran sederhana—bahwa kesabaran yang dijalani dengan kerja nyata, pada waktunya akan menemukan jalannya sendiri.
Comment