Pasar Kripto Tertekan, Bitcoin Anjlok 30 Persen

JAKARTA, LENSAMERDEKA.COM – Harga bitcoin (BTC) sempat menyentuh level terendah tujuh bulan, di kisaran 89.000 dolar AS pada Selasa (18/11/2025). Penurunan ini terjadi seiring tekanan signifikan di pasar kripto global, terutama akibat arus keluar dana dari ETF Bitcoin di Amerika Serikat dan meningkatnya kekhawatiran geopolitik.

Data CoinDesk menunjukkan, pada 14 November 2025, ETF spot Bitcoin mencatat arus keluar 869,86 juta dolar AS, menjadi rekor harian kedua terbesar dalam sejarah. Selama tiga minggu terakhir, total dana yang keluar dari ETF mencapai 2,64 miliar dolar AS, menandakan investor besar mulai menarik modal dari eksposur bitcoin melalui ETF.

Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menyebut, “Salah satu faktor utama koreksi harga bitcoin adalah arus keluar ETF yang besar serta aksi ambil untung.” Penurunan ini juga diperparah oleh rotasi dana ke pasar saham AS dan penguatan dolar AS pasca berakhirnya shutdown pemerintah, yang menekan minat terhadap aset berisiko seperti kripto.

Selain itu, kekhawatiran geopolitik meningkat terkait rencana tarif hingga 500 persen dari pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap negara-negara yang masih berdagang dengan Rusia, yang berpotensi menimbulkan gangguan rantai pasok dan inflasi.

Secara teknis, penurunan harga bitcoin di bawah 90.000 dolar AS menandai koreksi hampir 30 persen sejak puncaknya di Oktober 2025, dari sekitar 126.200 dolar AS. Likuidasi besar-besaran posisi leverage kripto juga menambah tekanan jual, dengan lebih dari 600 juta dolar AS posisi long terlikuidasi, menurut KuCoin.

Meski demikian, analisis on-chain menunjukkan beberapa pemegang jangka menengah hingga panjang tetap mengakumulasi bitcoin, memberi sinyal dukungan struktural pada level harga tertentu.

Sentimen makro global juga memengaruhi harga. Investor memantau kemungkinan The Fed melakukan operasi repo untuk menyuntikkan likuiditas, sementara ketidakpastian terkait kebijakan suku bunga menimbulkan tekanan pada aset berisiko.

Indodax menilai koreksi saat ini bagian alami dari siklus pasar kripto. Antony Kusuma, VP Indodax, menekankan, “Fundamental aset digital tetap kuat, dan di situasi seperti ini penting bagi investor untuk mengambil keputusan secara tenang dan terukur.” Ia menambahkan, koreksi tajam tidak berarti pasar bearish jangka panjang, dan momen ini bisa menjadi peluang akumulasi secara bertahap bagi investor jangka panjang.

Bagi investor Indonesia, pelajaran penting dari volatilitas ini termasuk pentingnya diversifikasi, manajemen risiko, dan memantau perkembangan makro global, terutama terkait kebijakan The Fed dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Skenario pemulihan bitcoin masih terbuka jika arus ETF stabil kembali, likuiditas global meningkat, dan support teknis di kisaran 85.000–90.000 dolar AS bertahan. Namun risiko tetap ada, termasuk tekanan makro, geopolitik, dan likuidasi posisi leverage

Comment