Karier Militer Andi Mattalatta dan Dedikasinya Pada Olahraga

Karier Militer Andi Mattalatta dan Dedikasinya Pada Olahraga

BARRU, LENSAMERDEKA.COMMayjen (Purn) Andi Mattalatta, tokoh pejuang asal Tanah Bugis dan ayah dari artis Andi Meriam Mattalatta, dikenal sebagai salah satu figur penting dalam sejarah militer dan olahraga Indonesia. Ia merupakan panglima pertama Komando Daerah Militer Sulawesi Selatan dan Tenggara (KDMSST) yang dinobatkan pada 1953 dan resmi dilantik pada 1 Juni 1957 oleh Kasad Mayjen TNI AH Nasution.

Perjuangan panjang Andi Mattalatta di dunia kemiliteran ia tulis sendiri dalam buku setebal 644 halaman berjudul Meniti Siri dan Harga Diri. Karyanya itu memuat perjalanan karier yang dimulai sejak masa pendudukan Jepang, ketika ia bergabung sebagai Tokubetsu Teisintai pada 1944.

Tokoh kelahiran Barru, 1 September 1920 ini, dikenal sebagai pemimpin tegas di berbagai operasi militer, termasuk saat menumpas gerombolan RMS di Pulau Haruku. Ia mengungkap bahwa banyak prajurit gugur bukan akibat kontak senjata, melainkan tenggelam saat pendaratan. Karena pengalaman tersebut, ia mewajibkan seluruh pasukannya mahir berenang.

BACA JUGA : Barru Gelar Napak Tilas TKR Sulawesi, Pangdam Hasanuddin Siap Hadir

“Soal kepandaian berenang sangat prinsip bagi seorang prajurit, dan itu harus dikuasai,” kata Andi Mattalatta dalam wawancara yang pernah dimuat harian Pembaruan.

Tokoh Olahraga dan Penggagas Fasilitas Ikonik Makassar

Selain dunia militer, nama Andi Mattalatta juga melekat dengan perkembangan olahraga Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan. Ia dijuluki “maniak olahraga” karena mampu menekuni hampir semua cabang, mulai renang, loncat indah, tinju, hingga atletik. Pada 1932 ia mengalahkan atlet-atlet Belanda dalam lomba renang bergengsi memperebutkan piala Ratu Wilhelmina di Makassar.

Pada era kolonial, kemampuannya membuat ia menjadi satu-satunya pribumi yang diterima di klub olahraga khusus Belanda, Sport Staat Spieren (SSS).

BACA JUGA : Pemkab Barru Matangkan Persiapan Napak Tilas Perjuangan Paccekke 2025

Tahun 1952, ia memprakarsai pembangunan Stadion Mattoanging Makassar, lengkap dengan gedung olahraga dan kolam renang. Ia juga menjadi tokoh penting dalam penyelenggaraan PON IV 1957 di Kota Makassar.

Pelopor Ski Air Indonesia

Jejak monumental lain adalah lahirnya olahraga ski air di Indonesia. Ide itu muncul setelah ia menonton film Easy to Love saat bertugas di Semarang. Terinspirasi, ia membuat peralatan sendiri karena tak ada fasilitas di Indonesia saat itu.

Bermodal gambar speedboat dari majalah luar negeri, ia memesan sekoci khusus serta motor tempel 35 PK. Papan ski ia bikin sendiri dari papan kayu 1,70 meter, sedangkan tali penarik hanya terbuat dari ijuk. Dari Pantai Lumpue, Parepare, olahraga ski air mulai tumbuh dan berkembang.

BACA JUGA : Warisan Colliq Pujie Jadi Sorotan Festival Budaya dan Lontaraq di Barru

Ketika menjabat Komandan Komando Pangkalan Militer Makassar (1953), ia memperkenalkan ski air kepada masyarakat dan para perwira. Bahkan warga asing di Makassar pun ikut belajar menyusuri pantai-pantai Pulau Lae-Lae, Pulau Samalona, hingga Pulau Kayangan.

Pada 1954 ia mendirikan POPSA (Persatuan Olahraga Perahu Motor dan Ski Air) yang hingga kini masih aktif di kawasan Fort Rotterdam.

Keluarga Atlet dan Warisan Olahraga

Semua putra-putri Andi Mattalatta mewarisi kecintaannya pada olahraga air. Di antaranya, Andi Ilhamsyah Mattalatta pernah dijuluki “seniman slalom” pada Kejurnas Ski 1972, sementara Andi Sorayantina meraih prestasi terbaik di PON X Jakarta tahun 1981.

Nama besar Andi Mattalatta masih hidup melalui karya, keteladanan, dan pengaruhnya bagi masyarakat olahraga dan dunia kemiliteran Sulawesi Selatan.

Comment