SUMATRA, LENSAMERDEKA.COM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memperbarui data dampak banjir dan longsor Sumatra yang melanda puluhan wilayah sejak akhir November 2025. Hingga awal Desember, jumlah korban jiwa akibat rangkaian bencana hidrometeorologi tersebut tercatat menembus angka seribu orang.
Berdasarkan laporan resmi BNPB per Sabtu malam, pukul 19.05 WIB, total korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor Sumatra mencapai 1.006 jiwa. Angka ini diperkirakan masih berpotensi bertambah seiring proses pencarian dan evakuasi yang masih berlangsung di sejumlah daerah terdampak.
Selain korban jiwa, BNPB juga melaporkan ratusan warga masih dinyatakan hilang. Kondisi medan yang sulit, cuaca ekstrem, serta tertimbunnya permukiman oleh material longsor menjadi kendala utama tim SAR di lapangan.
Korban Jiwa Terbanyak di Agam dan Aceh Tamiang
BNPB mencatat, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal tertinggi, yakni 184 orang. Disusul Kabupaten Aceh Tamiang di Provinsi Aceh dengan 159 korban jiwa, serta Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, yang mencatat 116 korban meninggal dunia.
BACA JUGA:
Prabowo Perintahkan Mendagri Copot Bupati Kabur Saat Bencana
Masih menurut data BNPB, jumlah korban hilang hingga saat ini mencapai 217 jiwa. Sementara itu, korban luka-luka akibat banjir dan longsor Sumatra dilaporkan mencapai sekitar 5.400 orang, dengan sebagian besar mengalami luka sedang hingga berat.
Bencana banjir dan longsor ini meluas ke 52 kabupaten/kota di beberapa provinsi, terutama Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Wilayah-wilayah tersebut dikenal memiliki topografi rawan longsor dan curah hujan tinggi dalam beberapa pekan terakhir.
BACA JUGA:
Operasi Bantuan Aceh Meningkat, BNPB Kerahkan 20 Sorti Udara
Dari sisi pengungsian, Aceh Tamiang mencatat jumlah pengungsi terbanyak, mencapai 209.500 jiwa. Berikutnya adalah Aceh Utara dengan 69.600 pengungsi, serta Kabupaten Bireuen sebanyak 54.100 jiwa. Para pengungsi saat ini tersebar di posko darurat, fasilitas umum, serta rumah kerabat.
Dampak bencana juga dirasakan pada sektor infrastruktur. BNPB mencatat sedikitnya 158.000 rumah mengalami kerusakan, mulai dari rusak ringan hingga rusak berat. Selain itu, terdapat 1.200 fasilitas umum yang terdampak, termasuk 219 fasilitas kesehatan, 581 fasilitas pendidikan, dan 434 rumah ibadah.
BACA JUGA:
Mirwan MS Akhirnya Angkat Bicara Usai Dicopot Mendagri
Kerusakan juga meliputi 290 gedung perkantoran serta 145 jembatan yang berfungsi sebagai penghubung antarwilayah. Kondisi ini menyebabkan akses logistik dan layanan publik terganggu di sejumlah daerah.
BNPB bersama pemerintah daerah terus mengintensifkan upaya tanggap darurat, termasuk distribusi bantuan logistik, pencarian korban hilang, serta pemulihan infrastruktur vital. Masyarakat di wilayah rawan juga diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan, mengingat curah hujan masih tinggi.
Comment