LENSAMERDEKA.COM – Minum air merupakan kebutuhan dasar tubuh untuk menjaga keseimbangan cairan dan mencegah dehidrasi setelah beraktivitas seharian. Namun, kebiasaan memilih jenis minuman yang kurang tepat, terutama mengonsumsi air es setiap hari, dinilai berpotensi menimbulkan dampak kurang baik bagi kesehatan jika dilakukan secara berlebihan atau pada waktu yang tidak tepat.
Di tengah cuaca panas, air es kerap menjadi pilihan utama karena sensasi segarnya. Tak heran, penggunaan lemari pendingin kini semakin jamak di hampir setiap rumah. Meski demikian, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa bahaya mengonsumsi air es setiap hari kerap diabaikan masyarakat. Padahal, kebiasaan ini dapat memengaruhi sistem pencernaan, metabolisme, hingga kenyamanan tubuh secara keseluruhan.
Ancaman Bahaya Mengonsumsi Air Es Setiap Hari
Konsumsi air es yang terlalu sering, terutama setelah makan atau berolahraga, dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Berikut sejumlah risiko yang perlu diwaspadai masyarakat.
BACA JUGA:
Jarang Disadari, Ini Manfaat Buah Mangga untuk Tubuh
Gangguan Pencernaan dan Rasa Tidak Nyaman
Salah satu dampak paling umum dari minum air es setiap hari adalah rasa tidak nyaman di perut. Suhu dingin dapat memperlambat proses pencernaan karena tubuh membutuhkan panas untuk mengolah makanan. Akibatnya, perut terasa begah, nyeri, hingga menyerupai gejala maag. Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi penderita gangguan lambung yang disarankan menghindari minuman bersuhu dingin.
Risiko Penyempitan Usus
Air es yang dikonsumsi setelah menyantap makanan berminyak berisiko menyebabkan lemak membeku di saluran pencernaan. Dalam jangka panjang, penumpukan ini dapat membuat usus menyempit dan mengganggu penyerapan nutrisi. Jika dibiarkan, kondisi tersebut berpotensi menurunkan kinerja sistem pencernaan secara keseluruhan.
BACA JUGA:
Segudang Manfaat Buah Sawo untuk Tubuh dan Kesehatan
Memicu Perut Buncit
Bagi mereka yang tengah menjalani program diet, kebiasaan minum air es setelah makan sebaiknya dihindari. Tubuh memerlukan energi dan lemak tambahan untuk menyesuaikan suhu dingin yang masuk. Proses ini dapat memicu penumpukan lemak di area perut sehingga memunculkan kesan buncit. Oleh karena itu, air hangat kerap direkomendasikan sebagai alternatif yang lebih ramah metabolisme.
Perut Kembung dan Begah
Efek lain dari bahaya mengonsumsi air es setiap hari adalah perut kembung dan begah. Suhu dingin dapat mengubah irama kerja organ pencernaan, memicu kontraksi lambung, serta meningkatkan produksi gas. Kondisi ini kerap membuat perut terasa penuh, kram, dan tidak nyaman.
BACA JUGA:
Tanaman Hias Cantik Ini Ternyata Mengandung Racun Mematikan
Dampak Buruk Setelah Berolahraga
Minum air es sesaat setelah olahraga juga dinilai berisiko. Perubahan suhu tubuh secara mendadak dapat mengganggu metabolisme, menyempitkan pembuluh darah, hingga memicu kram otot. Dalam kondisi ekstrem, gangguan ini bahkan dapat memengaruhi kerja jantung.
Pusing hingga Sakit Kepala
Sebagian orang mengeluhkan pusing atau sakit kepala setelah mengonsumsi air es. Hal ini diduga berkaitan dengan sistem saraf yang belum siap menerima perubahan suhu secara tiba-tiba, sehingga memicu sinyal nyeri di kepala.
Rasa Haus Berkepanjangan
Alih-alih meredakan dahaga, air es justru dapat membuat tubuh terasa lebih haus. Cairan dingin cenderung tidak terserap optimal, sehingga tubuh lebih cepat kehilangan cairan dan memicu keinginan minum berulang. Kondisi ini juga kerap dialami penderita diabetes.
BACA JUGA:
Khasiat Cabai Terbukti Bantu Turunkan Tekanan Darah Tinggi
Fenomena “Otak Membeku”
Risiko terakhir yang jarang disadari adalah fenomena brain freeze atau sensasi nyeri mendadak di kepala akibat konsumsi air es terlalu cepat. Meski umumnya bersifat sementara, kondisi ini menunjukkan respons tubuh terhadap rangsangan suhu ekstrem.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat disarankan membiasakan diri mengonsumsi air putih bersuhu normal atau hangat, terutama setelah makan dan berolahraga. Kebiasaan sederhana ini dinilai lebih aman untuk menjaga kesehatan pencernaan dan metabolisme tubuh.
Comment