JAKARTA, LENSAMERDEKA.COM – Investasi Danantara 20 Triliun mulai menggerakkan sektor unggas nasional. Emiten-emiten ternak di Bursa Efek Indonesia (BEI) kini bersiap menghadapi peningkatan permintaan sekaligus risiko baru yang mengikuti pelaksanaan program makan bergizi gratis pemerintah.
Rencana penyaluran dana jumbo tersebut tidak dimaksudkan membangun perusahaan peternakan milik negara, melainkan memperkuat rantai pasok dari hulu ke hilir dengan membiayai peternak ayam pedaging dan petelur skala kecil. Skema ini tetap mengikuti pola inti–plasma yang sudah puluhan tahun menjadi fondasi industri unggas Tanah Air.
Dampak Investasi 20T bagi Emiten Unggas
Dalam peta industri, emiten JPFA, CPIN, dan MAIN berada di level pemain besar hingga menengah. Adapun AYAM dan WMUU menempati kelas kecil–menengah, namun tetap berpeluang tumbuh bila distribusi berjalan lancar.
Dengan mengalirnya Investasi Danantara 20 Triliun, permintaan pakan, DOC, ayam hidup, dan produk olahan diperkirakan meningkat. Bila skenario berjalan mulus:
BACA JUGA:
Harga Emas 2 Desember Antam Naik Lagi, Tembus Dua Juta Lebih
-
JPFA dan MAIN berpotensi meraih lonjakan permintaan pakan.
-
CPIN diprediksi menjadi penerima manfaat terbesar berkat ekosistem bisnisnya yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
-
MAIN tetap punya peluang namun profil risikonya lebih tinggi karena margin tipis.
-
WMUU berada pada posisi paling rentan, tetapi masih memiliki upside bila stabilitas rantai pasok terjaga.
BACA JUGA:
Lonjakan Belanja Akhir Tahun 2025: Apa Dampaknya bagi UMKM di Sulawesi Selatan?
Namun, peluang ini hadir bersama ancaman. Risiko utama adalah oversupply nasional jika kapasitas produksi peternak kecil melonjak tanpa pengaturan distribusi. Harga ayam hidup bisa jatuh dan memukul margin emiten.
Dalam skenario tekanan harga:
-
JPFA dinilai paling sensitif terhadap gejolak livebird.
-
MAIN berpotensi tertekan karena margin minimal.
-
CPIN relatif lebih tahan banting, tetapi tetap terdampak bila oversupply berlangsung panjang.
BACA JUGA:
Pasar Kripto Tertekan, Bitcoin Anjlok 30 Persen
Selain itu, potensi intervensi harga dan munculnya ekosistem distribusi baru dapat mengubah dinamika dominasi pemain swasta di sektor unggas. Mekanisme penetapan harga dan transparansi distribusi menjadi faktor penting bagi pelaku pasar.
Analisis Teknikal Emiten Unggas
Dari sisi teknikal, saham-saham unggas menunjukkan tren berbeda:
-
JPFA masih menguat dan bertahan di area support 2.600. Selama tidak jatuh di bawahnya, saham ini sering dilirik untuk potensi swing jangka pendek.
-
CPIN bergerak mendatar di area rata-rata pergerakan 50 hari. Meski momentum kenaikan belum solid, aliran dana asing membuat saham ini tetap dipantau.
-
MAIN menunjukkan fase koreksi setelah sempat menembus 950. Pola lower low menandakan risiko tertinggi di klaster unggas.
Prospek dan Catatan Risiko
Bagi investor, Investasi Danantara 20 Triliun memang menjadi katalis kuat untuk sektor unggas. Namun pasar modal tidak hanya menilai potensi permintaan, tetapi juga:
-
realisasi penyaluran dana,
-
mekanisme pengaturan suplai,
-
dan kebijakan harga pemerintah.
Tanpa pengaturan ketat, “berkah 20T” justru berpotensi menjadi tekanan baru bagi margin emiten unggas. Pelaku pasar diimbau tetap mengedepankan kalkulasi matang, bukan semata terpikat angka investasi besar.
Comment