Lonjakan Belanja Akhir Tahun 2025: Apa Dampaknya bagi UMKM di Sulawesi Selatan?

Lonjakan Belanja Akhir Tahun 2025 Apa Dampaknya bagi UMKM di Sulawesi Selatan

LENSAMERDEKA.COM — Menjelang akhir tahun, sebagian besar masyarakat di Sulawesi Selatan (Sulsel) biasanya mempersiapkan belanja – untuk keperluan Natal, Tahun Baru, liburan, dan berbagai kebutuhan rumah tangga. Di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi Sulsel yang stabil pada 2025, lonjakan belanja ini bisa menjadi ‘angin segar’ bagi pelaku UMKM lokal. Namun, apakah lonjakan konsumsi ini benar-benar menguntungkan UMKM di Sulsel — atau malah menjadi kesempatan bagi pemain besar dan e-commerce? Artikel ini mencoba menggali seberapa besar dampaknya bagi UMKM di provinsi ini.

Situasi Ekonomi Sulsel di 2025 — Landasan Peluang

  • Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Sulsel tahun 2025 berada di kisaran 4,8%–5,6% (yoy).

  • Meski ada fluktuasi — triwulan II/2025 mencatat pertumbuhan ekonomi 4,94% (yoy), sedikit melambat dibanding kuartal I.

  • Kontributor utama perekonomian Sulsel tetap sektor pertanian, diikuti sektor perdagangan, industri pengolahan, dan jasa.

  • Pemerintah Provinsi dan BI menyebut konsumsi rumah tangga sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan tahun ini, seiring daya beli yang cenderung pulih.

BACA JUGA :
BPS Sulsel: Rokok Gerus Ekonomi Masyarakat Kurang Mampu

Implikasi: dengan kondisi ekonomi relatif stabil dan daya beli yang terkerek, momen belanja akhir tahun bisa menjadi peluang nyata bagi bisnis — terutama UMKM lokal — untuk meraih tambahan omzet.

Peluang bagi UMKM: Kenapa Lonjakan Belanja Bisa Menguntungkan

• Permintaan meningkat — peluang besar bagi produk lokal

Banyak konsumen cenderung berbelanja kebutuhan rumah tangga, makanan, hadiah, dekorasi, pakaian, maupun barang konsumsi lain menjelang akhir tahun. UMKM yang memproduksi barang-barang ini — terutama makanan/minuman, kerajinan, pakaian, aksesori — bisa mendapat lonjakan permintaan.

• Peran e-commerce dan pembayaran digital mendukung distribusi

Tren pembayaran dan transaksi digital terus meningkat. Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa sistem pembayaran digital memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi regional, terutama setelah perubahan pola konsumsi selama dan pasca-COVID-19. Bagi UMKM di Sulsel, ini artinya pangsa pasar mereka tidak hanya konsumen lokal — melainkan juga orang-orang di luar provinsi, bahkan luar pulau, selama mereka bisa memanfaatkan platform digital.

BACA JUGA :
Ferry Juliantono: Koperasi Bisa Jadi Penyelamat Ekonomi Jika Bisa Berinovasi

• Ruang untuk produk khas lokal dan musiman

Produk-produk khas Sulsel — seperti makanan tradisional, oleh-oleh, kerajinan tangan, produk tenun, hingga produk laut / hasil agrikultur — punya peluang besar. Konsumen menengah atas dan menengah ke atas yang ingin membeli oleh-oleh untuk liburan atau hadiah akhir tahun bisa menjadi pasar strategis.

• Dorongan ekonomi lokal pada akhir tahun = efek domino bagi UMKM

Jika konsumsi meningkat, maka suplai – permintaan barang konsumsi lokal, makanan, serta jasa — ikut terdorong. Hal ini bisa membuka peluang bagi UMKM sektor mikro dan kecil, termasuk usaha rumahan, pedagang kecil, pelaku ekonomi informal, tukang reparasi, hingga penyedia jasa terkait musim liburan.

Tantangan dan Risiko bagi UMKM

Namun, tidak semua UMKM akan otomatis menikmati lonjakan belanja. Ada sejumlah tantangan nyata:

• Persaingan ketat dengan pemain besar dan e-commerce nasional

UMKM lokal harus bersaing dengan toko-toko besar dan marketplace nasional yang menawarkan harga kompetitif, promosi besar-besaran, dan kemudahan distribusi. Tanpa strategi digital dan pemasaran yang baik, banyak UMKM bisa kalah bersaing.

BACA JUGA :
Barru Gali Potensi Hayati untuk Penguatan Ekonomi Lokal

• Daya beli tidak merata — tidak semua masyarakat bisa belanja besar

Meskipun pertumbuhan ekonomi dan daya beli meningkat, masih ada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah bawah. Lonjakan belanja sering terkonsentrasi di kalangan menengah ke atas — artinya UMKM yang memfokuskan diri pada pasar menengah bawah mungkin tidak merasakan manfaat besar.

• Ketergantungan pada manajemen usaha & pemasaran

UMKM perlu memiliki kemampuan manajemen, stok produk, pemasaran (online maupun offline), pengelolaan logistik, dan pelayanan konsumen. Banyak UMKM tradisional mungkin belum siap menghadapi lonjakan permintaan, sehingga bisa kewalahan, stok habis, atau layanan jelek — yang pada akhirnya merugikan.

• Risiko inflasi dan kenaikan harga bahan baku di akhir tahun

Dengan meningkatnya permintaan, harga bahan baku dan logistik bisa naik — yang akan menekan margin keuntungan UMKM. Jika mereka menaikkan harga, bisa jadi konsumen beralih ke produk massal.

BACA JUGA :
Pemkab Barru Dorong Kemandirian Warga Lewat Program Ekonomi Berkecukupan

• Musim yang pendek — lonjakan hanya temporer

Belanja akhir tahun bersifat musiman. Jika UMKM tidak memanfaatkan momentum dengan baik — misalnya memperkuat basis pelanggan, membangun loyalitas, dan mempertahankan layanan — maka setelah musim selesai, omzet bisa kembali menurun.

Apa Data & Indikasi di Sulsel 2025

  • Bisnis.com melaporkan bahwa pada Q2/2025, sektor perdagangan besar dan eceran di Sulsel tumbuh — dan reparasi mobil & sepeda motor tumbuh 14,37%.

  • Industri pengolahan — termasuk subsektor makanan-minuman, tekstil, galian bukan logam, dan furniture — juga mencatat pertumbuhan.

  • Pemerintah dan BI sendiri optimis bahwa konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang ekonomi Sulsel tahun ini.

Interpretasi: data menunjukkan bahwa meskipun ekonomi Sulsel sempat melambat pada Q2/2025, sektor perdagangan dan industri kecil — segmen yang banyak dihuni UMKM — masih tumbuh. Itu menandakan bahwa UMKM bisa mendapat manfaat dari aktivitas konsumsi, termasuk periode belanja akhir tahun.

Agar UMKM Sulsel Bisa Maksimalkan Momentum Akhir Tahun

  1. Manfaatkan platform digital & pembayaran online

    • UMKM harus hadir di marketplace, media sosial, dan kanal digital. Dengan tren pembayaran digital naik, ini sangat penting.

    • Pastikan manajemen stok dan logistik tertata agar bisa menangkap permintaan musiman.

  2. Tawarkan produk musiman & “gift-ready”

    • Produksi barang atau paket yang cocok untuk hadiah, oleh-oleh, atau keperluan liburan.

    • Manfaatkan kearifan lokal — produk khas Sulsel, makanan tradisional, kerajinan, souvenir.

  3. Fokus pada kualitas dan layanan — bukan harga semata

    • Konsumen akhir tahun sering mencari produk menarik, berkualitas, dan berbeda — bukan hanya harga murah.

    • Berikan layanan yang responsif, kemasan menarik, opsi pengiriman, dan kejelasan.

  4. Kelola keuangan dan persediaan dengan hati-hati

    • Hindari over-stok (karena musiman) tetapi juga jangan kekurangan persediaan di puncak permintaan.

    • Hitung dengan cermat margin keuntungan, biaya bahan baku, dan ongkos kirim.

  5. Bangun basis pelanggan jangka panjang

    • Gunakan momen belanja untuk membangun loyalitas: kartu pelanggan, promo untuk pembelian berikutnya, testimoni, branding.

    • Dengan cara ini, omzet tidak hanya melonjak pada akhir tahun, tetapi berkelanjutan.

BACA JUGA :
Takkalasi Pernah Jadi Pusat Ekonomi, Wabup Barru Dorong Kebangkitan Kembali

Kesimpulan: Lonjakan Belanja — Peluang Nyata, Tapi Bukan Jaminan

Lonjakan belanja akhir tahun 2025 bisa menjadi angin segar bagi banyak UMKM di Sulawesi Selatan — terutama yang mampu membaca peluang dengan strategi tepat: digitalisasi, produk menarik, manajemen baik. Data awal 2025 menunjukkan bahwa sektor perdagangan dan industri kecil masih tumbuh meskipun ekonomi secara keseluruhan sempat melemah.

Namun, ini bukan jaminan keberhasilan otomatis. Banyak UMKM yang berisiko tertinggal — kalah bersaing, kehabisan stok, atau gagal melayani demand. Maka dari itu, agar momen ini benar-benar menjadi titik kebangkitan bagi UMKM, perlu pendekatan proaktif, profesional, dan visioner.

Bagi pelaku UMKM di Sulsel — belanja akhir tahun adalah peluang, tapi hasilnya tergantung bagaimana Anda menanggapinya.

Comment