Asrama Mahasiswa Sulsel di Bandung Terancam Runtuh

BANDUNG, LENSAMERDEKA.COM – Kondisi Asrama Mahasiswa Sulawesi Selatan (Sulsel) LONTARA di Bandung, Jawa Barat, dilaporkan semakin memprihatinkan. Bangunan yang menjadi tempat tinggal mahasiswa asal Sulsel itu mengalami kerusakan berat tanpa adanya perhatian dari Pemerintah Provinsi Sulsel selaku pemilik aset.

Asrama yang berlokasi di kawasan Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, tersebut selama lima tahun terakhir hanya mengandalkan perbaikan swadaya dari penghuni. Ketua Asrama LONTARA, Muhammad Azhar Abdillah, menyebut sejak 2020 seluruh perbaikan dilakukan menggunakan kas mahasiswa.

“Banyak bagian yang rusak dan yang memperbaiki selama ini ya anak-anak sendiri, pakai uang kas,” ujarnya kepada Rastranews, Rabu (26/11/2025) malam.

Selain pembiayaan renovasi, kebutuhan rutin seperti listrik, air, hingga operasional harian juga ditanggung melalui patungan penghuni. Bahkan, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) asrama kini menunggak hingga Rp 99.394.649.

“Pajak itu sekarang sudah terkumpul sekitar 99 juta. Masa itu uang anak-anak mahasiswa kasihan harus dikumpul untuk bayar pajak,” tambahnya.

Kerusakan Parah dan Risiko Runtuh

Azhar menyebut kerusakan paling serius berada pada bagian belakang bangunan, tepat di bawah kamar mandi dan dapur. Area tersebut mengalami abrasi akibat aliran air dari saluran pembuangan, sehingga membahayakan fondasi bangunan.

“Di belakang asrama itu sudah abrasi. Lubang-lubangnya sampai keluar. Fondasinya dibuat ulang karena terus tergerus air. Kalau hujan deras, itu tinggal menunggu waktu saja runtuh,” jelasnya.

Kondisi ini dinilai mengancam keselamatan puluhan mahasiswa yang menghuni asrama setiap tahun.

Masalah berlarut disebut berawal dari ketiadaan kantor penghubung Pemprov Sulsel di Bandung. Setiap pengajuan permohonan bantuan selalu dialihkan ke kantor penghubung Sulsel di Jakarta, yang menurut Azhar sudah memiliki alokasi anggaran tersendiri.

“Tidak ada kantor penghubung Pemprov Sulsel di Bandung. Jadi kalau kita ajukan ke provinsi, pasti dilempar ke kantor penghubung di Jakarta. Sementara anggarannya sudah dialokasikan untuk Jakarta, bukan Bandung,” katanya.

Pengurus asrama mengaku hampir setiap tahun mengajukan proposal perbaikan, termasuk dokumen terbaru tahun 2025 yang ditujukan ke Biro Aset Pemprov Sulsel, namun tak ada satu pun yang mendapat persetujuan.

“Proposal itu tiap tahun kita bikin, tapi selalu ditolak,” ungkapnya.

Azhar menegaskan pihaknya memiliki seluruh dokumen pendukung mulai dari data mahasiswa aktif, laporan kerusakan bangunan, hingga rincian tunggakan pajak.

Mahasiswa Sulsel di Bandung Minta Diperlakukan Setara

Menurut Azhar, mahasiswa asal Sulsel di Bandung kerap terabaikan jika dibandingkan dengan kota-kota lain seperti Jogja dan Jakarta, yang dinilai lebih sering mendapat perhatian pemerintah daerah.

“Di Bandung juga ada putra daerah. Banyak yang kurang mampu, mereka paksa kuliah di sana, dan asrama ini rumah kedua buat mereka,” ucapnya.

Ia meminta Pemprov Sulsel segera memberikan perhatian, mulai dari penyelesaian tunggakan pajak hingga perbaikan bangunan yang berpotensi membahayakan penghuni.

“Paling tidak pemerintah bisa melirik keberadaan kita. Jangan semua dibebankan ke mahasiswa lagi,” tegas Azhar.

Comment