BARRU, LENSAMERDEKA.COM – Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Barru tidak hanya dilakukan melalui sektor kesehatan, tetapi juga diperkuat dari dunia pendidikan. Hal itu ditandai dengan dibukanya Diklat Peningkatan Kapasitas Guru PAUD dalam Penanganan Stunting oleh Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, S.H., M.Si., di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Barru, Senin (29/6/2026).
Dalam kegiatan yang diikuti puluhan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tersebut, Bupati menegaskan bahwa guru PAUD memiliki posisi yang sangat penting dalam mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter. Selain menjadi pendidik, mereka juga dinilai sebagai ujung tombak pembentukan karakter anak sekaligus agen perubahan dalam mendukung percepatan penanganan stunting di Kabupaten Barru.
Pelatihan ini menjadi salah satu langkah nyata Pemerintah Kabupaten Barru untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam menghadapi persoalan stunting yang hingga kini masih menjadi tantangan pembangunan sumber daya manusia.
Guru PAUD Jadi Garda Terdepan Pencegahan Stunting
Dalam sambutannya, Andi Ina mengatakan bahwa guru PAUD merupakan sosok yang setiap hari berinteraksi langsung dengan anak-anak dan orang tua. Kedekatan tersebut menjadikan guru memiliki ruang yang sangat besar untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya gizi, pola asuh yang tepat, serta pembiasaan hidup sehat sejak usia dini.
“Guru PAUD memiliki posisi yang sangat strategis karena setiap hari berinteraksi langsung dengan anak-anak dan orang tua. Melalui diklat ini, saya berharap ibu dan bapak bukan hanya menjadi pengajar, tetapi juga menjadi agen perubahan dan duta penanganan stunting di lingkungan masing-masing,” ujar Bupati.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data tahun 2025, prevalensi stunting di Kabupaten Barru masih berada pada angka 26,1 persen. Angka tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa upaya percepatan penurunan stunting harus terus diperkuat melalui kolaborasi semua pihak.
Karena itu, Bupati mengajak seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh, aktif berdiskusi, dan tidak ragu menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi selama mendampingi anak-anak di sekolah.
“Jangan takut bertanya dan menyampaikan persoalan yang dihadapi. Dari diskusi seperti inilah kita bisa menemukan solusi untuk diterapkan di sekolah maupun di tengah masyarakat,” katanya.
Andi Ina menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Lebih dari itu, PAUD menjadi fondasi utama dalam membangun karakter, membiasakan pola hidup sehat, serta mendukung perkembangan fisik, mental, dan emosional anak.
Menurutnya, masa usia dini merupakan periode emas yang akan sangat menentukan kualitas generasi di masa depan.
“Memori anak-anak ini masih kosong. Tolong isi dengan hal-hal yang baik. Ajarkan mereka nilai-nilai agama, kedisiplinan, kepedulian, kebiasaan hidup sehat, dan akhlak yang baik. Jadikan mereka seperti anak kita sendiri, jangan pernah dibedakan,” pesannya.
Bupati juga mengingatkan agar seluruh guru memberikan perhatian, kasih sayang, dan perlakuan yang sama kepada setiap anak tanpa memandang latar belakang keluarga maupun kondisi sosial mereka.
Ia menilai pengalaman yang diterima anak selama berada di lingkungan PAUD akan menjadi dasar pembentukan karakter hingga mereka dewasa.
Siapkan Generasi Barru Menuju Indonesia Emas 2045
Dalam kesempatan tersebut, Andi Ina mengaitkan pentingnya pendidikan anak usia dini dengan visi besar Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, anak-anak yang saat ini duduk di bangku PAUD merupakan generasi yang kelak akan menjadi pemimpin, tenaga profesional, maupun pelaku pembangunan ketika Indonesia memasuki usia satu abad kemerdekaan.
“Kita tidak ingin anak-anak Barru hanya menjadi penonton ketika Indonesia memasuki era Indonesia Emas 2045. Mereka harus menjadi generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, berdaya saing, dan memiliki akhlak yang mulia. Semua itu dimulai dari pendidikan usia dini,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh guru PAUD menjadikan pelatihan tersebut sebagai momentum untuk meningkatkan kompetensi sekaligus memperkuat komitmen dalam mendampingi tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
“Kita semua harus bahu-membahu. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Guru PAUD memiliki peran besar dalam mencetak generasi penerus yang sehat, cerdas, dan bebas stunting. Insya Allah, jika kita bekerja bersama, Kabupaten Barru akan melahirkan generasi yang mampu bersaing dan menyongsong Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Mengakhiri sambutannya, Bupati menyampaikan apresiasi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Barru beserta seluruh panitia yang telah menyelenggarakan pelatihan tersebut. Ia berharap kegiatan serupa terus dilaksanakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan anak usia dini sekaligus mempercepat penurunan angka stunting di Kabupaten Barru.
Sementara itu, Ketua Panitia, Ibrahim, menjelaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan tindak lanjut dari upaya peningkatan kapasitas guru PAUD dalam mendukung percepatan penanganan stunting.
Menurutnya, intensitas interaksi guru dengan anak dan orang tua menjadikan mereka sebagai garda terdepan dalam memberikan edukasi mengenai pencegahan stunting sejak usia dini.
Ia menjelaskan, pelatihan ini bertujuan meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional guru PAUD dalam mendeteksi gejala awal stunting, memperkuat pemahaman mengenai pemenuhan gizi, pola asuh, serta stimulasi psikomotorik yang tepat, sekaligus mempererat sinergi antara tenaga pendidik, orang tua, dan pemerintah dalam penanganan stunting secara terpadu.
Diklat berlangsung selama empat hari, mulai 29 Juni hingga 2 Juli 2026, dan diikuti sebanyak 80 guru PAUD, terdiri atas 50 guru Taman Kanak-Kanak (TK) dan 30 guru Kelompok Bermain (KB) dari berbagai kecamatan di Kabupaten Barru.
Kegiatan menghadirkan narasumber Dr. Muspira, S.H., M.Pd., bersama tim dari Universitas Negeri Makassar (UNM). Turut hadir Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Barru beserta jajaran, para pemateri, peserta diklat, dan undangan lainnya.

Comment