Gas Elpiji 3 Kg Langka di Soppeng, Harga Tembus Rp40 Ribu

Illustrasi Antrian Gas Elpiji 3 Kg

Illustrasi Antrian Gas Elpiji 3 Kg

SOPPENG, LENSAMERDEKA.COM – Kelangkaan gas elpiji 3 kg di Kabupaten Soppeng semakin dikeluhkan masyarakat. Di Kecamatan Marioriawa, puluhan warga, didominasi ibu rumah tangga, terpaksa mengantre sejak dini hari di pangkalan resmi demi mendapatkan tabung gas melon yang dalam beberapa hari terakhir sulit ditemukan di pasaran.

Pemandangan antrean panjang sudah terlihat sejak pagi buta. Warga datang lebih awal dengan harapan bisa membawa pulang satu tabung gas elpiji 3 kilogram. Namun, terbatasnya pasokan membuat tidak semua warga yang mengantre berhasil mendapatkannya.

Di sisi lain, kondisi tersebut turut memicu lonjakan harga di tingkat pengecer. Jika biasanya gas elpiji 3 kg dijual sekitar Rp18.000 hingga Rp20.000 per tabung, kini harganya melonjak menjadi Rp35.000 bahkan mencapai Rp40.000 per tabung.

Bukan Hanya Mahal, Gas Elpiji Juga Sulit Didapat

Bagi masyarakat, persoalan utama bukan semata-mata kenaikan harga, melainkan sulitnya memperoleh gas bersubsidi tersebut.

Salah seorang ibu rumah tangga yang ikut mengantre mengaku telah berusaha mencari gas selama tiga hari terakhir. Namun, usahanya belum juga membuahkan hasil.

“Yang jadi masalah bukan cuma harga naik, tapi barangnya tidak ada. Biar pun harga naik, yang penting selalu tersedia. Sekarang mahal pun belum tentu dapat,” keluhnya.

Keluhan serupa disampaikan Sahidin, warga yang juga ikut mengantre di pangkalan resmi. Ia mengatakan harga di pangkalan sebenarnya masih mengikuti ketentuan pemerintah, namun jumlah tabung yang diterima sangat terbatas sehingga warga harus bersaing untuk mendapatkannya.

“Di sini harganya masih sesuai ketentuan, tapi bahannya sangat sedikit. Kita harus antre, belum tentu dapat juga karena jatah gas elpiji 3 kg yang masuk ke agen sangat terbatas,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi ini semakin menyulitkan masyarakat karena kebutuhan gas elpiji tidak hanya digunakan untuk memasak, tetapi juga menunjang aktivitas ekonomi warga.

Petani Terancam Rugi Akibat Kekurangan Gas

Kelangkaan gas elpiji 3 kg terasa semakin berat di tengah musim kemarau yang sedang melanda wilayah Soppeng.

Bagi sebagian petani, gas elpiji menjadi bahan bakar utama untuk mengoperasikan mesin pompa air yang digunakan mengairi sawah. Saat curah hujan menurun dan lahan mulai mengering, keberadaan pompa air menjadi penentu keberlangsungan tanaman padi.

“Kalau tidak ada gas, tanaman padi kami akan mati dan kami akan rugi besar,” tambah Sahidin.

Kondisi tersebut membuat kelangkaan gas bukan lagi sekadar persoalan kebutuhan rumah tangga, tetapi juga berpotensi memengaruhi produktivitas pertanian masyarakat.

Sementara itu, pemilik salah satu pangkalan resmi di Kecamatan Marioriawa, Jumadi, membenarkan bahwa pasokan gas elpiji bersubsidi memang mengalami pengurangan dalam beberapa waktu terakhir.

Saat dihubungi melalui telepon seluler, Senin (13/7/2026), ia menjelaskan bahwa kuota yang diterimanya kini hanya separuh dari jumlah sebelumnya.

“Saat ini memang pasokan tabung gas elpiji 3 kg mengalami kelangkaan. Dulu jatah saya 100 tabung per hari atau 600 tabung dalam satu minggu, tapi sekarang mengalami pengurangan hanya 300 tabung per minggu. Pasokan itu datang pada hari Senin, Rabu, dan Jumat masing-masing 100 tabung, sementara jumlah pemakainya justru semakin bertambah,” ujarnya.

Menurut Jumadi, meningkatnya kebutuhan masyarakat pada musim kemarau juga ikut mempercepat habisnya stok yang tersedia.

“Apalagi di musim kemarau seperti saat ini, kebutuhan dan pemakaian gas elpiji meningkat tajam,” lanjutnya.

Warga berharap pemerintah bersama Pertamina segera mengambil langkah untuk mengatasi kelangkaan tersebut. Penambahan pasokan ke pangkalan resmi serta pengawasan distribusi dinilai menjadi solusi mendesak agar masyarakat kembali mudah memperoleh gas elpiji 3 kg dengan harga sesuai ketentuan.

Selama pasokan belum kembali normal, antrean panjang diperkirakan masih akan terjadi di sejumlah pangkalan resmi, sementara masyarakat harus menghadapi ketidakpastian untuk mendapatkan kebutuhan energi yang menjadi bagian penting dari aktivitas sehari-hari.

Comment